Kesulitan dalam hidup bukanlah harga mati sebuah kesengsaraan. Ia bisa dijalani dengan penuh kenikmatan, jika kita pandai menyikapinya. Bahkan, Allah Swt memberi berita gembira bahwa pada setiap kesulitan itu terdapat dua kemudahan. Inilah sebuah seni dalam hidup yang demikian besar maknanya. Tentu saja, hanya bagi kaum yang berpikir.
Tiada Asap Jika Tiada Api
Apa yang kita tanam, tak jauh dengan apa yang akan kita tuai. Jika kebaikan yang ditanam, kebaikan pulalah yang kita tuai, cepat atau lambat. Demikian juga sebaliknya, jangan harap mendapat kebaikan jika yang kita tanam adalah kejelekan.
Rangkaian kesulitan hidup dari musibah bencana alam hingga krisis ekonomi, sebenarnya lagu lama buat kita. Peristiwa yang sama hampir terjadi pada setiap tahun berganti. Mestinya, kita sudah pintar dan lihai mengatasi persoalan hidup tersebut, andai saja kita berhasil mengambil pelajaran dari sederet peristiwa sama pada masa lalu.
Tak dipungkiri, di mana ada keinginan untuk berubah, di sana pula akan terbentang kebaikan dan keburukan. Itulah yang dinamakan konsekuensi. Setiap pilihan hidup, pastilah mengandung resiko. Artinya, tiada seorang pun yang bisa menghindar dari konsekuensi tersebut. Akan tetapi, seseorang akan sanggup meminimalisir konsekuensi buruk suatu peristiwa jika ia pandai menyikapinya.
Kesulitan hidup, ada kalanya -bahkan mungkin lebih dominan- dipicu oleh sikap dan perilaku hidup kita sebagai manusia. Musibah banjir, longsor, kebakaran adalah sebagian contoh di mana tangan-tangan manusia turut andil membuatnya terjadi. Inilah sebenarnya apa yang kita tuai dari perilaku kita di masa sebelumnya. Efek yang lambat semacam ini seringkali meninabobokan kita dari rasa peduli terhadap lingkungan atau sekadar sikap wara', berhati-hati. Maka manakala musibah itu datang, bukan penyesalan atas sikap kita terdahulu yang kemudian lahir, melainkan sikap menyalahkan pihak lain yang dianggapnya mesti bertanggungjawab. Tentu, sikap hidup mencari kambing hitam ini, bukan milik orang-orang yang memiliki iman. Bahkan mereka yang beriman akan instrospeksi, barangkali kelalaiannyalah yang membuat peristiwa-peristiwa itu terjadi.
Menyadari sikap seperti ini tentu tidak akan melahirkan keluh kesah, tidak pula membuatnya larut dalam kesedihan. Bagi mereka, inilah saat di mana mereka memperbaiki kualitas hidupnya sehingga tidak saja membuatnya sanggup mengatasi kesulitan hidup melainkan juga mampu mencegah kembali apa yang mungkin bisa terjadi nanti.
Musibah, Antara Ujian dan Bencana
Ingatlah kisah seorang wanita yang bertemu dengan Abul Hasan ketika thawaf dengan wajah yang bersinar dan berseri-seri, padahal ia dalam keadaan duka cita yang dalam. Wanita itu mengisahkan bahwa ketika suaminya tengah menyembelih seekor kambing kurban, anaknya yang masih kecil dan senang bermain, tiba-tiba berujar kepada adiknya. "Maukah aku tunjukkan padamu bagaimana ayah menyembelih kambing?" Adiknya menjawab, "Baiklah." Maka disuruhlah sang adik berbaring dan disembelihlah leher adiknya itu. Kemudian, dia merasa ketakutan setelah melihat darah keluar. Ia pun lari bersembunyi ke bukit. Di sana, ia bertemu serigala yang kemudian menerkamnya. Sang ayah kemudian pergi mencari-cari anaknya itu hingga akhirnya ia sendiri mati kehausan. Dan, ketika wanita itu meletakkan anak bayinya untuk keluar mencari suaminya, tiba-tiba sang bayi merangkak menuju periuk yang berisi air panas. Ditariknya periuk tersebut, dan tumpahlah air panas mengenai badannya hingga habis melepuhkan kulit badannya. Berita ini pun akhirnya terdengar oleh anaknya yang telah menikah dan tinggal di daerah lain, sehingga ia pun jatuh pingsan sampai menemui ajalnya. Kini, sang wanita itu tinggal sebatang kara di antara semua keluarganya. Abul Hasan kemudian bertanya, "Bagaimanakah kesabaranmu menghadapi semua musibah yang sangat hebat itu?" Wanita tadi menjawab, "Tiada seorang pun yang dapat membedakan antara sabar dengan mengeluh, melainkan ia menemukan di antara keduanya ada jalan yang berbeda. Ada pun sabar dengan memperbaiki yang lahir, maka hal itu baik dan terpuji akibatnya. Adapun mengeluh, sesungguhnya ia tidak mendapat ganti apapun kecuali sia-sia belaka."
Sebuah musibah, seringkali ditafsirkan berbeda-beda. Ada yang memandangnya sebagai bencana, ada juga yang menganggapnya sebagai ujian dari Sang Khaliq. Sebagian orang bahkan lalu bertanya, apakah benar bahwa sebuah peristiwa sebagai ujian Allah? Ataukah justru adzab Allah yang diperuntukkan bagi makhluk-makhluk-Nya yang lalai? Dalam Alquran, Allah memang telah berfirman kepada bangsa-bangsa yang menentang bahwa Allah mengirimkan adzab agar mereka sadar atau mendapatkan balasan dari perbuatan mereka. Namun, tak banyak yang menyadari itu sebagai adzab.
Namun begitu, tentu saja, awal yang baik adalah menjaga husnuzhan. Ketika musibah dipersepsi sebagai bencana, maka tidak akan jauh-jauh hasilnya. Orang akan merasakan kesengsaraan justru karena ia mempersulit diri dengan asumsinya tentang musibah yang datang kepadanya itu. Segala sesuatunya dikeluhkesahkan, disesali, diratapi, sehingga membuatnya terus terpuruk tak memiliki tenaga untuk bangkit mengatasi kesulitannya. Ketika musibah dipersepsi sebagai azab, ada nuansa muhasabah yang mungkin terjadi. Ada kekuatan moral untuk bangkit memperbaiki diri. Sama ketika orang mempersepsi musibah sebagai ujian, yang melahirkan kesabaran untuk menjalaninya dan mengupayakan perbaikan dalam perilaku hidupnya.
Selaksa Hikmah, Seuntai Nasihat
Kisah wanita di atas tadi, adalah teladan kesabaran yang tinggi dalam menghadapi musibah yang datang beruntun. Tak ada kebaikan selain apa yang kemudian dilakukan untuk meneruskan hidup dan mengambil pelajaran dari sisa peristiwa yang telah dilaluinya.
Pada setiap kejadian, memang selalu ada hikmah yang terkandung di dalamnya. Dan hikmah yang terbaca lalu dipikirkan, maka ia sebenarnya adalah untaian nasihat yang dalam, langsung dari Allah. Sayang, sulit sekali menemukan orang yang sanggup menangkap hikmah pada setiap kejadian, apalagi mendapat pelajaran darinya.
Kebanyakan, orang-orang yang sombong lagi takabbur menghindar dari nasihat-nasihat orang lain. Mereka yang merasa lebih baik dari yang lain, lebih banyak tahu, lebih pintar, akan lebih sukar menerima pendapat orang lain apalagi jika itu dijuduli dengan kata 'nasihat'. Padahal, ilmu dan nasihat bisa datang dari siapa pun. Dari anak yang lebih kecil hingga seorang pengemis. Mereka yang bisa menerima dan menangkap hikmah, hanyalah orang yang merendahkan hatinya dan mengakui keterbatasannya sebagai makhluk. Kesadarannya bahwa alam semesta dan seisinya adalah sumber ilmu dan hikmah, memudahkannya menerima nasihat dari siapa pun, dari apapun makhluk Allah yang bertebaran di muka bumi.
Demikian juga musibah. Dipersepsi apapun, baik sebagai ujian maupun bencana, pada hakikatnya ia adalah nasihat. Hanya saja, orang yang persepsi awalnya sudah negatif terhadap datangnya musibah, tentu saja kesulitan menangkap 'nasihat' dari hadirnya musibah tersebut. Bagaimana tidak? Ia sendiri telah terperangkap oleh pikiran buruknya tentang musibah tersebut. Ia lebih banyak mengutuk, meratapi, mengkambinghitamkan orang lain, sibuk dengan keadaan dirinya sendiri. Hilanglah waktu untuk berpikir tentang pelajaran apa yang bisa ia ambil darinya.
Padahal, tiada satu pun peristiwa di muka bumi ini yang bukan karena kehendak Allah. Orang-orang yang beriman tentu sangat mengenal karakter ini, sehingga mereka sampai pada keyakinan bahwa satu-satunya yang sanggup melindungi dan memberikan pertolongan hanyalah Allah. Hasbunallah wa ni'mal wakiil, cukuplah Allah sebagai penolongku, dan Allah sebaik-baik Pelindung (QS. Ali Imran[3]:173)
Aneka musibah yang datang silih berganti, bagi mereka adalah petunjuk agar mereka mau berpikir dan mengambil pelajaran. Dan Allah telah menurunkan aneka musibah ini tentu untuk suatu tujuan.
Keyakinan yang besar terhadap Allah akan menghilangkan rasa was-was, yang hinggap di setiap hati manusia. Dan ini akan membuahkan sikap wara' dalam menghadapi dan menyikapi segala sesuatu. Allah telah berfirman,"Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaithan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya." (QS. Al-A'raaf[7]: 201)
Musibah adalah lahan pengujian. Apakah dalam ujian tersebut seseorang menunjukkan perilaku serta pola pikir yang baik yang diridhai Allah atau tidak? Dengan demikian, akan terlihat orang-orang yang memiliki keimanan atau keyakinan yang tinggi kepada Tuhannya.
Satu Kesulitan Dua Kemudahan
Musibah adalah bagian dari kesulitan hidup. Ia juga bagian dari nuansa kehidupan yang tidak hanya kaya akan kesulitan melainkan juga kaya dengan kebahagiaan. Kadang-kadang, banyak orang tidak bersyukur dan terlupa dengan kebahagiaan yang diraihnya sebelum datang kesulitan. Mereka terus menyalahkan takdir, menyalahkan orang lain karena kesulitan yang menghadangnya itu. Mereka lupa, bahwa pada saat kebahagiaan datang kepada mereka, tak satu hal pun dilakukan untuk mensyukurinya. Jangankan untuk menghisab diri dengan datangnya musibah tersebut, menyadarinya sebagai bagian dari sunnatullah dan ujian dari Allah pun acapkali jarang terjadi. Demikianlah orang-orang yang tidak memiliki keyakinan yang ajeg kepada Tuhannya.
Sementara itu, orang-orang yang beriman, mereka tidak pernah berputus asa dari rahmat Allah Swt. Mereka yakin dengan janji Allah bahwa pada setiap kesulitan itu diapit oleh kemudahan. (QS. A Lam Nasyrah[94]:6). Inilah berita gembira bagi orang-orang yang sabar. Karena Allah tak pernah mengingkari janji-janji-Nya.
Namun, adakalanya orang yang sudah beriman pun akhirnya tergelincir karena kurang sabar. Ketika musibah datang bertubi-tubi, kesabaran pun dianggap sudah habis dan mencapai batasnya. Mereka kemudian mencari jalan pintas untuk bisa keluar dari kesulitan.
Sebuah ikhtiar seharusnya dilakukan dengan cara yang juga sesuai dengan rambu-rambu sunnatullah. Jika Allah menjanjikan akan datangnya dua kemudahan, memang bukan berarti ia datang tiba-tiba dan lantas menyelesaikan permasalahan. Akan tetapi tetap harus diupayakan, dicari dan digali. Allah Sendiri yang akan menuntun kita selama kita memohon perlindungan dan tuntunan kepada-Nya.
Musibah adalah 'buah' dari kehendak Sang Maha Berkehendak. Maka pasti Dia juga yang tahu jalan keluarnya. Maka, tak ada tempat kembali yang utama kecuali kepada Allah dikembalikan segala urusan dengan ikhtiar zhahir yang maksimal. Mudah-mudahan musibah yang datang melanda negeri ini sanggup memberi pelajaran dan mendatangkan berjuta hikmah kepada sebanyak-banyak orang. Dan mengembalikan kita pada kesadaran bahwa Kehendak Allah di atas segalanya. Nikmatilah kesulitan hidup seperti kita menikmati kebahagiaan hidup. Karena setelah kesulitan akan datang kemudahan dan kebahagiaan. Lalu waspadalah dan berbekallah karena setelah kebahagiaan itu akan berganti pula dengan kesulitan atau problematika baru. Karena demikianlah sunnatullah.
Satu hal yang juga penting, jangan sampai ketawakalan seperti ini pun menjebak kita dalam sebuah doktrin, yang memandang kesulitan hidup yang terjadi sebagai takdir Allah semata, sehingga menghentikan upaya untuk terus memperbaiki kualitas hidup, mematikan kreativitas, dan melupakan ikhtiar. "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu sendiri yang mengubahnya." (QS. Ar Ra'du[13]:11). Wallahu 'alam.***
Musibah Sebagai Nasihat,,,
Langganan:
Posting Komentar (Atom)








0 komentar:
Posting Komentar